Author Archive

Pentas Seni

Tidak terasa SMAN 1 Gamping sudah memasuki 25 tahun usianya. Didirikan dan menerima siswa baru sejak 1992 dan dinegerikan pada tahun 1993. Seiring dinamika perkembangan masyarakat berbagai kegiatan telah ditempuh oleh seluruh stake holder SMAN 1 Gamping antara lain menjalin kerjasama dengan UMY dalam bidang e-learning dan dengan berbagai lembaga pendidikan lainnya. Kegiatan kesiswaan sendiri telah berkembang pesat. Tercatat SMAN 1 Gamping pernah menjurai berbagai event bergensi seperti juara tenis antar pelajar  DIY, renang, Tae Kwon do dan lainya. Bahkan dalam bidang seni teater saat ini tengah digalakkan dibawah asuhan guru seni dan bahasa Jawa. Seni musik juga berkembang sejalan dengan dinamika siswa yang dinamis.

Baru-baru ini para siswa SMAN 1 Gamping unjuk kebolehan bermain musik dan tari. Pentas ini diadakan dalam rangka memperingati ulang tahun  SMAN 1 Gamping yang jatuh pada tangal 23 Agustus 2019 yang lalu tapi karena berbagai kesibukan baru dapat dilaksanakan sekarang. Foto kegiatan dapat dilihat di Gallery

MPLS dan Pendikar 2019

Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) SMAN 1 Gamping tahun ajaran 2019/2020 yang diselenggarakan selama tiga hari berlangsung dengan lancar. Jalannya MPLS diisi oleh kolaborasi antara pihak Guru, OSIS serta mahasiswa KKN-PPL UNY. Adapun kegiatan tiap harinya yakni sebagai berikut:

Hari pertama MPLS dibuka secara resmi oleh kepala sekolah dalam upacara bendera sekaligus yang dilakukan secara padat namun berisi di pagi hari sebelum kegiatan MPLS selama tiga hari dilakukan. Selain arahan dari Kepala Sekolah, pada upacara, dilakukan juga pembukaan agenda MPLS secara simbolis dengan melepas burung-burung yang disiapkan oleh panitia serta peserta MPLS. Di akhir upacara dilakukan penyerahan piala kejuaraan yang telah diraih siswa-siswi SMAN 1 Gamping kepada pihak sekolah, sebagai wujud motivasi dan teladan dari siswa-siswi kelas XI dan XII kepada warga baru SMAN 1 Gamping yakni siswa-siswi kelas X.

Di sesi pertama agenda MPLS, diisi oleh pemantapan visi misi sekolah serta motivasi berprestasi di SMAN 1 Gamping. Di sesi kedua diisi oleh pendampingan dari wali kelas untuk setiap masing-masing kelas. Di sesi ketiga, mahasiswa KKN-PPL UNY memberikan suntikan motivasi “belajar cara belajar” yang diikuti oleh seluruh peserta dengan antusias. Setelah sesi ke 2 dan di akhir sesi ke 3 dilakukan pendampingan dari panitia MPLS pada seluruh peserta MPLS. Hari pertama ditutup oleh kegiatan shalat dzuhur berjamaah.

MPLS hari kedua diawali dengan agenda kedisiplinan melalui sosialisasi tata tertib dari unit bimbingan konseling sekolah. Adanya sosialisasi tata tertib ini, siswa-siswi baru diharapkan agar mengerti, memahami, dan  mentaati apa yang telah disepakati bersama terkait kedisiplinan di sekolah ini. Setelah agenda kedisiplinan, panitia MPLS dari OSIS melakukan pendampingan di tiap kelas guna menjalin keakraban antar angkatan. Selanjutnya para siswa baru dikumpulkan lagi dalam forum bersama untuk menerima materi terkait motivasi berorganisasi. Materi ini dimaksudkan untuk mendorong minat dan bakat siswa pada kegiatan ekstrakurikuler ataupun organisasi, guna meningkatkan kapasitas softskill para siswa baru.

Hari ketiga MPLS sekaligus hari terakhir MPLS diisi oleh agenda kerohanian yang dibawakan guru agama dalam forum besar. Harapannya dengan adanya orientasi kerohanian ini, siswa baru dapat mendasari segala kegiatan belajarnya pada agama, agar terbentuk karakter baik yang menjadi harapan dari sebuah preoses pendidikan. Setelah agenda tersebut, masih dalam forum besar, materi dilanjutkan pada kampanye anti kenakalan remaja yang diberikan oleh tim dari Badan Narkotika Nasional (BNN). Di akhir agenda MPLS akhirnya dilakukan penutupan yang berlangsung secara meriah dan menghibur, menuntaskan orientasi tempat belajar siswa baru untuk bisa berproses sesuai harapan dari materi-materi yang telah diberikan dalam MPLS selama tiga hari ini.

 Pada saat kelas X melaksanakan MPLS, kelas XI dan XII juga melaksanakan kegiatan dalam waktu yang bersamaan. Kegiatan tersebut adalah training dengan tema Pembinaan Pendidikan Karakter dan Wawasan Kebangsaan. Training hari pertama ini dimulai dengan pengantar acara pendidikan karakter, yang selanjutnya diisi dengan materi pendidikan karakter. Adanya tema tersebut dimaksudnya agar siswa memiliki karakter yang sesuai dengan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia, serta memiliki wawasan kebangsaan untuk menunjang kehidupannya dalam kehidupan bermasyarakat. Setelah materi tentang pendidikan karakter, para siswa yang beragama Islam dipersilakan untuk melaksanakan Salat Dhuha. Materi yang diberikan selanjutnya adalah tentang Budaya Intelektual : Membaca-Menulis-Berdiskusi. Materi ini diberikan karena sedikit demi sedikit budaya intelektual telah hilang di kalangan para pelajar.

Pada hari Selasa, Kepala SMA N 1 Gamping, Sunarya, S.Pd. memberi penguatan visi dan misi sekolah pada para siswa kelas XI, agar siswa lebih memahami lagi mengenai visi dan misi sekolah mereka. Materi yang berikutnya adalah “Menemukan dan Mengasah Softskill” yang kemudian dilanjutkan dengan permainan-permainan untuk penanaman nilai-nilai karakter. Permainan-permainan tersebut dilakukan berkelompok, agar siswa lebih akrab dan dapat bekerja sama dengan baik. Sedangkan di kelas XII adalah training Ujian Nasional dari Gama Exacta, yang kegiatan tersebut dilanjutkan dengan  pengerjaan soal oleh siswa agar lebih siap dalam menghadapi Ujian Nasional. Kegiatan selanjutnya adalah permainan-permainan untuk penanaman nilai-nilai karakter.

Kemudian training hari terakhir (Rabu, 17 Juli 2019), bapak Drs. Risang memberi pembinaan pada siswa kelas XI tentang kedisiplinan, diharapkan siswa lebih disiplin dalam kegiatan pembelajaran ataupun ketika berada di luar sekolah. Materi yang selanjutnya adalah Anti Kenakalan Remaja. Materi ini menjelaskan tentang kenakalan-kenakalan yang dilakukan oleh anak muda pada zaman sekarang ini, yang dapat mengakibatkan kerusakan moral. Pemberian materi ini diharapkan dapat membuka mata hati siswa agar bisa membedakan mana yang baik, dan agar tidak melakukan kenakalan-kenakalan yang bisa merusak moral mereka. Klasifikasi kenakalan remaja yang dibahas dalam training ini seperti tawuran, seks bebas, penggunaan obat-obatan terlarang, dan kenakalan-kenakalan yang dilakukan di lingkungan sekolah. Kegiatan yang dilakukan siswa kelas XII adalah penguatan visi dan misi oleh Sunarya, S.Pd.. Selanjutnya, diisi oleh Lembaga Bimbingan Belajar Primagama dengan materi mengenai tips dan trik menembus Perguruan Tinggi Negeri, agar siswa tidak salah memilih jurusan serta memilih Perguruan Tinggi yang tidak tepat.

Pagar Sepiring Nasi

Oleh Bahtiar HS

Kuliah Ahad Shubuh, di masjid kampung saya, topiknya berat: Pola Konsumsi Muslim, menukil pendapat Dr. Yusuf Qaradhawi. Tetapi, yang ingin saya sampaikan kali ini bukan materi berat itu, melainkan sebuah humor, yang jadi selingan ustadz pengisi siraman rohani pagi itu. Bukan karena lucu, melainkan justru karena sangat bermakna.

Dialog ini diambilnya dari lawakan Srimulat, entah kapan. Saya sendiri rasanya belum pernah mendengarnya. Ustadz itu kemudian bercerita — dengan tokoh yang saya reka sendiri:

Asmuni bertanya pada teman-temannya, “Ada yang tahu nggak, apa yang paling aman bisa menjaga rumah kita dari gangguan orang?”

Sejenak kemudian, Tarsan yang tinggi besar menjawab, dengan gaya sangat meyakinkan, “Yang paling aman adalah buat pagar yang sangat tinggi, biar orang lain  tidak bisa memasuki atau melompat ke dalam halaman rumah kita.”

Asmuni tertawa. “Ha ha ha! Syalahh!!”

Timbul menimpali jawab. “Pelihara aja anjing herder yang paling gedhe dan galak! Ya, kan Asminu? Eh, Asmuni?”

Asmuni tertawa lagi. “Ha ha ha! Sudah ngawur, salah pula!!”

Bisa ditebak, akhirnya tidak ada yang bisa memberi jawaban yang menurut Asmuni benar. Semua menyerah. “Apa dong jawabnya?” tanya mereka.

“Ha ha! Nyerah?” tanya Asmuni meledek sambil mesam-mesem. “Jawabnya gampang! Yang paling aman menjaga rumah kita adalah … sepiring nasi!”

“Sepiring nasi?” ulang Timbul linglung. “Ah, ojo guyon?”

“Ini betul, Pak Timbul!”

“Gimana mungkin sepiring nasi bisa menjadi penjaga paling aman rumah kita?”

“Lho, coba saja. Berilah tetangga kita sepiring nasi, merata, dan yang sering-sering aja,“ kata Asmuni serius. “Bahkan rumah kita tak dikasih pagar sekalipun tidak akan ada yang nyolong. Ya, nggak?”

Semua melongo, kemudian mengangguk-angguk.

Yang kemudian akan saya ceritakan ini bukan lawakan, melainkan kenyataan yang saya alami dan lihat dengan mata kepala sendiri. Sebuah pengalaman nyata.

Pertengahan Januari 2005 yang lalu, selepas tsunami melanda Aceh dan sekitarnya, saya berkesempatan mengunjungi Tuan Haji Ismail bin Haji Ahmad, pemilik perusahaan HPA Sdn. Bhn. di Negara Bagian Perlis, Malaysia. Kebetulan istri saya sedang belajar ilmu pengobatan herba di Kolej Perubatan Jawi (KPJ) di bawah pembinaan beliau selama satu setengah bulan.

Ada dua hal yang sangat berkesan di hati saya ketika itu. Pertama, ketika pertama kali datang di areal KPJ, saya disambut Tuan Haji Ismail dan dipeluknya bagai saudara dekat yang datang dari perjalanan jauh -dan memang sangat jauh mengingat Perlis terletak di perbatasan Malaysia dengan Thailand Selatan. Dan yang kedua, dipersilakannya saya bersama istri dan anak saya yang masih menyusu untuk menginap di rumah beliau, di bilangan Jejawi, sekitar 10 km dari Kangar, ibukota Perlis.

“Anggap rumah sendiri, Pak Bahtiar,” kata tuan rumah yang ramah ini.

Rumah itu berbentuk sebagaimana rumah di Jawa. Terbuat dari pasangan batu bata dan semen, dengan atap dari seng atau genteng. Langit-langitnya ditutup asbes dan lantainya dipasangi keramik apa adanya. Di sebelahnya ada rumah panggung dari kayu, bentuk khas rumah penduduk di sana yang kiranya tetap dipertahankan. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu (Jawa: gedheg) yang berlubang-lubang sehingga ketika tidur bisa mengintip bintang di langit. Di sebelahnya lagi sebuah surau sederhana, tempat keluarga Tuan Haji dan masyarakat sekitarnya salat berjamaah.

Meskipun ada pagar berbatasan dengan jalan, tetapi jalan masuk ke lingkungan rumah ini tidak berpintu. Juga antara rumah satu dengan tetangga lainnya yang berdekatan tidak ada pagar pembatas.

Kami ditempatkan beliau di rumah batu-bata; di sebuah kamar, yang biasa dipakai putra-putri beliau jika sedang di rumah -pada saat itu, semua anaknya (kecuali yang baru lahir) sedang berada di pondok pesantren Tahfidhul qur’an.

Di lingkungan ini berkumpul satu komunitas masyarakat -semacam dusun di Indonesia – yang terdiri atas beberapa puluh rumah. Dusun ini dikelilingi oleh hamparan sawah yang luas dan terbuka dengan latar belakang bukit yang menjulang di kejauhan. Sungguh pemandangan pedesaan yang modern tetapi asri. Mengapa saya bilang modern, karena fasilitas jalan yang tersedia sangat lebar, mulus, tertib, lengkap dengan rambu-rambu yang bagus dan terawat. Juga terdapat banyak pabrik beraneka rupa yang memproduksi berbagai jenis barang komoditi. Singkat kata, Jejawi bukan serupa pedesaan di Jawa, melainkan sungguh-sungguh sebuah kota yang ramai.

Ada satu hal yang paling berkesan tinggal di rumah Tuan Haji Ismail ini. Rumah beliau yang kami tempati tersebut tidak pernah dikunci! Ya, tidak pernah dikunci! Di malam hari sekalipun. Bahkan mobil beliau -dua atau tiga, saya tak tahu pasti jumlahnya-  hanya diparkir di samping rumah, tanpa pagar, dengan kunci yang hanya diletakkan di teras. Setiap orang dengan sangat mudah menemukannya jika mau.

Jika kami masuk rumah, tinggal mencopot sepatu di luar pintu, membuka pintu sebagaimana adanya dan menutupnya sedemikian rupa. Itu saja. Di dalam rumah pun demikian juga. Kami dengan mudahnya bisa masuk ke ruang tamu beliau, perpustakaan, ruang makan, dapur.

Selama lima hari tinggal di rumah itu – kebetulan beliau juga sedang ke Aceh, membantu korban tsunami – tak ada pertanyaan yang menarik untuk dicari jawabnya kecuali mengapa rumah ini tidak pernah dikunci. Apakah pemilik rumah ini tak takut kehilangan benda berharga di dalamnya ? Apakah Tuan Haji tidak pernah kemalingan ?

Jawabnya ternyata tidak jauh dari lawakan di atas. Ya, sepiring nasi. Maksud saya, Tuan Haji terkenal sebagai orang yang dermawan, suka memberi pada tetangganya, pada orang lain yang membutuhkan. Ia sangat memperhatikan zakat dan infaqnya. Ia pun sangat sederhana. Bahwa baju yang dimilikinya hanya cukup dipakai bergantian selama seminggu alias tujuh hari barangkali sudah cukup menggambarkan betapa ia hidup bersahaja dan tidak bermewahan. Padahal beliau adalah pemilik perusahaan HPA yang produknya sudah merambah tidak hanya Malaysia, tetapi juga seluruh pelosok Indonesia, Thailand, bahkan Timur Tengah. Ia seorang muslim yang konglomerat kalau boleh saya bilang.

Bagaimana jika harta di rumah Tuan Haji dibawa maling? Seseorang pernah bertanya demikian. “Itu saya anggap Allah sedang membersihkan harta saya yang mungkin kotor,” jawab herbalis itu. Namun, apakah Tuan Haji pernah kemalingan? “Pernah juga,“ jawabnya kalem. “Tetapi sekalinya pencuri itu mengambil barang-barang di rumah saya, tak berapa lama kemudian ianya kembali ke rumah dan mengembalikan barang-barang yang diambilnya semula.”

Yah, kalau begitu sih, tak usah dikunci juga tak apa-apa. Pencuri saja akan mengembalikan hasil curiannya dari rumah Tuan Haji. Jadi, apatah gunanya dikunci-kunci pula?

Sudah lima hari saya di Malaysia dan menginap di rumah itu. Saya sudah waktunya pulang ke Indonesia. Istri dan beberapa teman peserta KPJ serta karyawan Tuan Haji Ismail mengajak saya berkeliling Perlis. Ke Gua Kelam, Wang Kelian di perbatasan Malaysia dengan Thailand, Masjid Kangar, dan sebagainya. Karena saya akan pergi seharian dan kebetulan saya membawa tas berisi laptop milik perusahaan tempat saya bekerja, maka secara refleks saya memasang kunci kamar dari dalam. Toh tinggal pencet. Dalam batin saya, takutnya kalau laptop mahal itu hilang dicuri orang. Ketika pintu saya tutup dari luar dan kemudian … klik! … terkunci, barulah saya menyadari bahwa saya betul-betul tidak tahu di mana anak kuncinya berada.

Akhirnya saya lalui kunjungan ke beberapa tempat tersebut dengan hati yang tak jenak. Gara-gara suudzon pada rumah Tuan Haji yang tak berkunci, justru saya terlibat kesulitan karena telah mengunci kamar tanpa tahu di mana anak kuncinya berada. Mana tuan rumah juga sedang tidak di tempat. Maka setelah kunjungan selesai, kami berkeliling mencari tukang kunci di Kangar. Untung masih ada satu toko yang buka -itupun setelah orangnya ditelpon ke rumah.

Jadilah kami membongkar kunci kamar Tuan Haji hanya karena kelalaian kecil; hingga karenanya saya harus membayar RM 70 pada tukang kunci necis itu –bawaannya mobil keren. Uang itu setara dengan Rp 175.000,- hanya untuk kerjaan ketrampilan tangan Mac Giver mengkutak-katik lubang kunci dengan sejengkal kawat.

Mungkin untuk bisa seperti Tuan Haji Ismail yang tanpa beban membiarkan pintu rumahnya tak berkunci, saya harus membuang jauh-jauh prasangka jelek (su’udzon) pada orang lain, di samping tentu berbagi “sepiring nasi”. Wallahu a’lam.

Sains vs Media

Apa perbedaan antara sains dan media? Sangat banyak tentunya perbedaan yang menjelaskan pengertian keduanya. Hal ini karena media berasal dari bahasa latin medius yang berarti “tengah”, perantara atau dalam bahasa Arab, media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim kepada penerima pesan (Azhar Arsyad, 2002 : 3), berupa sarana komunikasi dalam bentuk cetak, video, audio, maupun online, sedangkan sains, berdasarkan webster new collegiate dictionary adalah pengetahuan yang diperoleh melalui pembelajaran dan pembuktian atau pengetahuan yang melingkupi suatu kebenaran umum dari hukum – hukum alam yang terjadi misalnya didapatkan dan dibuktikan melalui metode ilmiah. Sains dalam hal ini merujuk kepada sebuah sistem untuk mendapatkan pengetahuan yang dengan menggunakan pengamatan dan eksperimen untuk menggambarkan dan menjelaskan fenomena – fenomena yang terjadi di alam. Satu hal lagi, perbedaan antara media dan sains ialah persepsi orang dalam mencerna kedua hal tersebut, khususnya orang Indonesia, yang secara tidak sadar mencerminkan “alergi” atau kurangnya minat dan kesadaran akan pentingnya sains. Contoh sederhananya, coba saja cerna definisi media dan sains diawal paragraf ini. Nuansa apa yang pembaca secara umum rasakan ketika membandingkan definisi antara keduanya?

Perbedaan tadi tentu tidak menarik untuk di diskusikan, dan yang memicu pemenuhan kebutuhan diskusi justru pertanyaan: Apa hubungan sains dan media? Melihat fenomena kemajuan sains yang menjadi pilar kemajuan dan kemandirian suatu bangsa, seperti yang terjadi di China, Jepang, Jerman, bahkan mantan negara berkembang sekaliber India, menjadi sangat menarik dan  penting untuk mendiskusikan dua entitas yang seakan berbeda ini, namun menyimpan relasi antara keduanya: sebuah relasi pertemanan.

Sangat menarik, melihat pengaruh media yang begitu penting dan cepatnya merasuki kehidupan seseorang atau sekelompok  masyarakat. Wajar saja mengingat saat ini merupakan era teknologi informasi. Simaklah bagaimana masyarakat saat ini lebih terpengaruh oleh isu-isu yang berkembang di media massa seperti koran dan berita televisi. Perhatikan pula bagaimana remaja, dan bahkan berbagai kalangan terbius oleh arus media jejaring sosial seperti facebook, twitter, plurk dan lain-lain. Hal-hal tersebut cukup luas menjangkau berbagai lapisan masyarakat, melintasi batas pulau, kota, dan desa ditanah air. Fenomena itu menunjukkan bahwa media begitu berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat saat ini.

Berdasarkan hal diatas maka sains harus akrab dengan media agar wawasan sains benar-benar masuk ke dalam kehidupan masyarakat Indonesia sehingga timbul manfaat dari pemahaman sains yang tinggi. Hal inilah yang tercipta di negara-negara maju seperti Jepang. Sebagai negara maju, masyarakat Jepang secara umum memiliki tingkat pengetahuan yang tinggi. Hal ini disebabkan karena minat baca dan rasa ingin tahu masyarakatnya yang tinggi, serta didukung oleh banyaknya bahan bacaan mengenai sains. Buku-buku ini tidak hanya berupa text book yang digunakan oleh mahasiswa dan pelajar, tetapi juga berupa buku sains yang ditulis secara populer, yang ditujukan untuk masyarakat luas. Selain itu, media masa, baik media cetak maupun media elektronik, juga memberikan kontribusi yang banyak dalam peningkatan pengetahuan masyarakat Jepang, melalui pemberian informasi di bidang sains. Bercermin dari Jepang, ternyata sains dan media merupakan kolaborasi yang mengantarkan masyarakat Jepang menjadi mandiri dan maju seperti saat ini.

Di Indonesia, tingkat pengetahuan dan minat pada sains masih rendah. Salah satu diantara penyebabnya adalah kurangnya informasi mengenai sains yang mudah didapatkan, baik berupa media masa cetak ataupun informasi yang disajikan oleh media elektronik seperti TV. Oleh karena itu, perlu media yang gencar menyampaikan informasi dan pengetahuan tentang sains, misalnya berupa buku, tayangan televisi, artikel di media cetak dan media online. Buku sains populer dan artikel di media cetak memang sudah ada ditengah-tengah masyarakat kita, namun jumlahnya masih sangat kecil dibandingkan di negara-negara maju.

Kemandirian serta daya saing bangsa akan terangkat, bila pendidikan dan penelitian sains mampu meningkatkan kualitas pendidikan serta mampu menyelesaikan berbagai persoalan bangsa. Pendidikan secara umum dan meyeluruh bagi masyarakat ialah melalui media, khususnya media massa. Penyampaian media untuk membudayakan sains pada masyarakat akan mampu menciptakan motivasi berkarya dan sikap mandiri masyarakat dalam memecahkan permasalahan serta mencapai cita-cita bangsa, karena sumber daya alam yang potensial telah kita miliki, dan sumber daya manusia kita bukan tak mampu untuk menciptakan dan menemukan buah sukses dari pohon bernama sains. Sudah saatnya sains meyebar dan meresap kedalam kehidupan masyarakat melalui sentuhan yang membelajarkan melalui media. Ya, sains harus lebih akrab berteman dengan media.